Pagi itu aku tak sengaja melihatnya di sudut ruangannya, masih merah segar. Seseorang baru saja terluka, pikirku. Aku menanyai satu persatu rekan kerjaku apakah ada yang terluka.
Nihil.
Beberapa dari mereka sama sepertiku, terkejut melihat tetesan darah di sudut ruangan yang kini mulai mengering. Mereka mula menanyai satu sama lain, memastikan siapa yang terluka.
Hari mulai siang, orang-orang berlalu lalang mengabaikan keberadaan tetesan darah yang entah milik siapa. Tidak ada yang mencari tahu lagi dan bahkan mungkin melupakannya. Begitupun denganku, aku sudah tidak lagi memedulikan darah milik siapa itu.
Darah itu masih ada di sana, mengering dalam sepi.
Hampir saja aku terjerembab karena seseorang begitu ceroboh meletakan kardus di lorong yang menghubungkan ruangan utama dengan ruanganku. Hampir saja aku mengumpat kalau saja mataku tidak menangkap sesuatu tak jauh dari tempatku hampir jatuh.
Ada bercak darah lagi.
Sama seperti yang berada di sudut ruangan, bercak ini sudah mengering dan warnanya menjadi lebih gelap. Tidak, bercak yang ini lebih panjang, seperti seseorang tergesa membawa lukanya ke suatu tempat. Ada titik-titik kecil bercak darah di sekitarnya.
Aku kembali mencari tahu siapakah yang terluka, apakah dia mendapatkan perawatan ataukah tidak sama sekali.
Di sini, di tempatku bekerja berdarah dan terluka seperti hal yang biasa. Entah siapa yang membuatnya seperti hal yang biasa. Bagiku, luka dan berdarah adalah hal yang mengerikan. Aku tidak akan kuat melihat siapapun terluka. Aku cukup penakut jika melihat seseorang terluka di hadapanku. Panik, hal pertama yang akan kulakukan.
Sudahlah aku akan melanjutkan pekerjaanku, aku terlalu lelah untuk mengutuk siapapun yang membuatku terjerembab. Biarlah.
"Ah!"
Aku meraung cukup keras ketika kulit tanganku tersengat rasa sakit yang tidak terduga. Kulitku terasa dikoyak oleh sesuatu yang keras dan tajam. Rasa sakit menjalar dengan cepat di seluruh persendian. Panas dan perih menggerogoti tangan kiriku.
Aku sungguh terkejut ketika beberapa orang meneriakkan namaku dengan tatapan horor dan histeris. Dua tiga orang lari menuju ke arahku.
Oh.
Ada luka kecil memanjang di pergelangan tanganku. Aku sedikit terkejut melihat darah mengalir cukup banyak dari ujung lukaku. Lukanya tidak terlalu dalam, pikirku. Aku panik. Tentu saja. Bukan karena lukaku, tapi beberapa meneriaki bahwa darahnya sudah semakin banyak. Seseorang memapahku, bukan, dia membawaku berlari.
Komentar
Posting Komentar