Still You (아직도난 )

Aku terbangun dari tidur ketika ponselku berdering menandakan sebuah pesan masuk. Aku mengucek mata pelan dan menatap sekelilingku. Semuanya masih sama seperti seminggu yang lalu ketika terakhir kali aku meninggalkannya. Aku merindukan suasana kamarku ini, merindukan suasana di negeri yang kutinggali sekarang… dan merindukan seseorang. Sejujurnya aku tak ingin mengunjungi negara ini lagi jika tidak ada kewajiban kerja. Sebenarnya aku bisa resign dari kantor tempatku bekerja, namun aku tidak cukup uang untuk membayar biaya pemutusan kontrak kerja, dan aku belum rela untuk benar-benar meninggalkannya. Tapi aku juga masih belum ingin bertemu dengannya.
Sore ini aku memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kota, berharap menemukan suasana baru kota ini. Aku menatap sebuah gedung tinggi di sudut persimpangan jalan, masih sama seperti dua tahun yang lalu. Tentu saja, aku baru meninggalkan negara ini seminggu yang lalu bagaimana mungkin bisa berubah secepat itu. Aku juga masih sama seperti dua tahun yang lalu, tidak berubah dan mungkin aku tidak akan berubah. Langkah kakiku melambat ketika memasukki area dekat perempatan. Sebuah gedung tinggi di seberang jalan membuatku menghentikan langkah.
Tempat itu sangat familiar bagiku dua tahun ini, sudah sebulan aku tidak mengunjunginya, apakah tempat itu masih sama? Kurasa, akan ada sedikit yang berbeda jika aku masuk kesana.
“Ayo kita pergi!”
“Tunggu aku!”
Suara dua gadis di sebelahku menyadarkanku dari lamunan singkat yang baru saja membawa imajinasiku entah kemana. Dua gadis itu berlari ke seberang jalan, memasukki tempat yang baru saja ada di pikiranku. Aku ragu untuk mengikuti kedua gadis tersebut meskipun langkahku secara tidak sadar mengikuti langkah mereka.
“Maaf.” Kataku pelan kepada seseorang ketika aku tidak sengaja menabraknya.
Suasana toko yang baru saja kumasukki sangat ramai oleh pelanggan. Aku menggaruk kepalaku menyadari kalau hari ini adalah hari sabtu. Sebelumnya aku tidak pernah datang ke toko ini di akhir minggu. Aku tahu, tempat ni akan sangat ramai dan benar saja. Huh.
Chocolate cake dengan strawberry mungil sebagai garnish diatasnya menarik perhatianku untuk kuletakkan di nampan. Aku tidak terlalu suka cokelat sebenarnya, namun perpaduan cokelat dan strawberry sepertinya akan sangat lembut di lidah dan cocok untuk santapan sore hari. Cokelat akan mengurangi rasa masam strawberry dan rasa manis bercampur masam yang khas meleleh menjadi sebuah rasa yang tidak bisa dilupakan. Aku berjalan menuju antrian yang memanjang, dan sangat panjang. Aku tahu ini kesalahanku yang datang pada hari sabtu.
DEG!
Sebuah senyum menusuk tepat di sudut hatiku yang masih terkoyak. Luka yang masih menganga tertusuk sebuah es yang membeku. Dingin mematikan namun entah kenapa terasa menyejukkan. Aku menatapnya tersenyum dan tertawa, dan tanpa sadar aku ikut tersenyum. Aku merindukan semua itu. Antrian semakin memendek, dan giliranku menatap mata pemilik senyum itu tiba. Dia melihatku dan kurasa dia sedikit terkejut menyadari kemunculanku. Aku mencoba mengurai senyum, dan dia membalasnya. Canggung seperti stranger yang bertemu di suatu tempat yang sama-sama asing bagi keduanya.  Apakah ini rasanya berpisah?
“Kapan kau kembali?”
Perempuan cantik dan anggun di sebelah orang yang menusukkan es beku di hatiku menanyaiku, memecah kebekuan suasana yang tiba-tiba tercipta. Setidaknya aku bisa mengalihkan rasa canggungku.
“Kemarin. Lama tak bertemu, kakak semakin cantik.”
“Benarkah? Kau juga cantik. Senang bisa melihatmu lagi disini. Hei, kau suka cokelat sekarang?”
Aku tertawa kecil, kakak didepanku ini memang selalu menyenangkan. Berusaha membuatku nyaman meskipun dia tahu aku berada dalam posisi yang sangat mengacaukan pikiranku selama seminggu ini.
“Ah tidak juga, kak. Aku hanya suka melihatnya.”
“Suka melihatnya? Apa kau membeli cake hanya untuk kau lihat? Kau harus memakannya. Hahaha” tawa renyah perempuan itu berhasil membuatku –dan seseorang di dekatnya- tertawa kecil.
“Kau apa kabar?”
DEG!
Dia menanyaiku.
 “Baik, kau sendiri bagaimana?”
Laki-laki di hadapanku tersenyum manis, perasaan canggung beberapa menit lalu lenyap seketika saat dia mulai menanyaiku tentang hal-hal kecil yang sebenarnya kurindukan.
“Kenapa kau tiba-tiba makan cokelat?”
“Aku hanya ingin mencoba, tadi kulihat hiasannya manis. Makanya aku beli. Tidak bolehkah?” tanyaku menahan hasrat ingin memeluknya.
“Hahaha, hati-hati pada gigimu. Bisa-bisa gigimu menjadi cokelat lagi dan bisa-bisa air mineral satu botol kau habiskan sendiri hahaha.” Laki-laki di depanku ini tertawa, sebuah suara yang selama seminggu ini menghilang dari hidupku. Dia masih mengingat beberapa kenangan yang bahkan aku tidak ingat sama sekali.
“Ah tenang saja, aku sudah bisa makan cokelat sekarang, hahaha. Kakak, berapa cake-nya?”
Belum sempat perempuan yang menjaga kasir menjawab, laki-laki di depanku berkata “Gratis.”
“Eh? Mana bisa gratis, kau tidak akan dapat untung kalau terlalu baik pada pelangganmu.” Candaku.
“Hari ini hari ulang tahunmu, jadi hari ini spesial dan kau mendapat cake gratis dari tokoku.”
Ulang tahunku? Ya ampun, aku bahkan melupakan hari lahirku sendiri. Dia masih mengingat hari ulang tahunku, dia masih mengingatku.
“Ah…” sahutku sambil mengusap rambutku.
“Dasar kau ini. Masih saja pelupa. Selamat ulang tahun, ya.”
Tuhan, bolehkah aku menangis hanya karena dia mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ padaku?
“Hehehe terima kasih. Apa kau tidak memberiku kado?” tanyaku asal. Aku bahkan tidak menyadari kalau aku mulai gugup. Aku ingin memeluknya, sungguh.
Terdengar suara berisik di belakang kasir, seperti suara orang yang mengobrol dan tertawa riang. Aku mengenal pemilik-pemilik suara itu dengan jelas. Mereka orang-orang yang juga kurindukan, tapi tak ingin kutemui. Namun sepertinya, laki-laki didepanku ini mendengar kalimat-kalimat yang baru saja kupikirkan.
“Ibu, lihatlah siapa yang datang.”
Aku salah datang hari ini. Aku tidak mau diadili lagi, kumohon.
Sesosok perempuan yang belum terlalu tua keluar dan terkejut melihatku berdiri di depan kasir. Mengerti, aku keluar dari barisan antrian dan mendekati orang yang baru saja dipanggil ‘ibu’. Aku tidak peduli beberapa pasang mata para antrian menatapku heran, tapi aku ingin memeluk perempuan itu. Aku memeluknya dan perempuan itu balas memelukku erat.
“Kenapa kau baru kembali, nak?” tanyanya dengan suara parau.
“Maaf, ibu.”
“Kau ini, kenapa tega melakukan ini pada ibu?” suaranya semakin parau. Aku tahu orang ini menangis. Isakan pelanku perlahan terdengar makin keras, saat merasakan kepalaku diusap-usap sayang olehnya. Oleh seseorang yang tidak ada hubungan darah denganku, tapi menyayangiku seperti anaknya sendiri. Laki-laki yang memanggilnya ‘ibu’ membawa kami masuk ke ruangan dimana pelanggan tidak diijinkan masuk. Aku bebas memeluknya sekarang.
***
“Ibu, aku ingin pulang. Sudah petang sepertinya. Aku akan takut pulang ke apartemen jika hari gelap.”
Perempuan separuh baya yang dipanggil ibu memelukku, mencegahku pulang. Mengikuti kemana langkahku berjalan, menimbulkan banyak mata menatap kami. Orang ini memelukku erat dan matanya masih berlinang. Aku tersentuh dengan sikapnya yang memperlakukanku sebagai anaknya sendiri.
“Tapi aku harus pulang, ibu.”
“Sebaiknya kau tinggal sebentar disini. Lihatlah, ibu belum ingin kau pergi.”
Laki-laki bermata indah yang selalu lancang masuk ke dalam mimpiku itu menyuruhku tetap berada di tokonya, menahanku.
“Tapi…”
Laki-laki itu berjalan mendekat dan membawakan dua gelas milkshake cappucino diberikannya padaku dan ibu. “Akan kuantar kau nanti, jangan khawatir.”
Ibu dari laki-laki yang selalu kurindukan itu masih menautkan jari-jari tangannya padaku seakan tidak ingin melepasnya. Dibawanya aku ke sebuah kursi kecil di sudut ruangan dengan segelas cappucino  di tangan masing-masing.
“Duduklah.”
“Paman mau pergi kemana?” tanyaku saat melihat suaminya pergi keluar toko.
“Biarkan saja dia pergi, nanti biar kakakmu yang menjemputku.” Jawabnya disambut dengan anggukanku.
“Kau masih berhubungan dengannya?”
“Siapa, ibu?”
Sosok yang kupanggil ‘ibu’ itu mengarahkan pandangannya kepada anak laki-lakinya yang masih sibuk di depan meja kasir. Kenapa aku selalu berpikir dia sangat manis hanya ketika dia berada di depan meja kasir? Hahaha…
“Tidak, ibu.”
“Seminggu ini?” tiba-tiba perempuan ini menampakkan ekspresi wajah terkejut yang kemudian berubah menjadi sedih dan kecewa. Aku takut, apakah jawabanku mengecewakannya?
Ibu di depanku ini mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu ketika aku menikmati cappucino hangatku. Sesekali aku mencuri pandang ke arah laki-laki yang baru saja kuanggap manis ketika berada di depan meja kasir. Suatu saat aku tertangkap mata sedang memandanginya, dan dia pun menoleh kearah yang lain. Hati ini berdesir, kenapa dia seperti itu padaku?
Aku berhenti mencuri pandang kearahnya, kembali fokus pada milkshake cappucino di depanku. Ibu di depanku masih sibuk dengan ponselnya, membuatku tidak ada kegiatan yang bisa kulakukan. Tanpa aku sadar aku melempar pandangan kearah kasir, tapi aku tidak menemukan sosoknya. Kemana dia?
“Ibu, ada apa menyuruhku kesini?”
Sebuah suara mengagetkanku dan hampir membuatku tersedak dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Laki-laki itu duduk di kursi yang berseberangan denganku dan ibu.
“Kalian bicaralah, aku pergi ke belakang sebentar.”
Aku terpaku melihat punggung ibu yang mulai menjauh meninggalkan kami berdua. Atmosfir dingin mulai terasa ketika hanya tinggal aku dan dia. Aku merasa sangat canggung untuk melihat kearahnya yang sama sekali tidak melihat kearahku. Dia mulai sibuk dengan ponselnya, kegiatan yang paling tidak kusukai darinya. Aku menatap lantai kayu dibawahku, mencoba mengalihkan rasa canggungku. Aku menyeruput minumanku, lalu memandangi pelanggan yang mulai berkurang, tidak ada objek yang menarik untuk digunakan sebagai pengalih situasi canggung.
“Kamu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Kau diet?” tanyanya mencoba memecah keheningan beberapa menit yang lalu.
“Iyakah? Sepertinya aku seperti ini sejak sebulan yang lalu.”
“Oh.”
Canggung lagi. Kemana tawa dan senyumnya yang tadi dia pamerkan saat berdiri di meja kasir? Hei, dia bilang aku terlihat kurusan? Bukan, aku tidak melakukan diet atau mengalami depresi berkepanjangan hanya karena memikirkannya, tapi karena dia yang tidak memperhatikanku selama satu bulan ini.
“Kita memang lama tidak saling bicara, tapi apakah harus secanggung ini?” tanyaku akhirnya setelah lelah dengan kecanggungan konyol yang kami ciptakan sendiri.
“Kenapa tidak pernah memberiku kabar?” Dia menoleh kearahku, membuatku mau tak mau membalasnya. Mataku mulai basah, tiba-tiba aku merasa gugup.
“Seminggu ini aku menunggu kau yang mengirimiku kabar terlebih dulu, tapi kau tidak pernah sekalipun mengirimiku pesan atau menelponku. Kupikir kau benar-benar tidak ingin kau mengenalku lagi.”
Aku terdiam setelah kalimat-kalimat itu terucap. Aku bahkan tidak menyadari kalau aku baru saja mengatakan itu semua kepadanya. Aku mencuri pandang kearahnya, mencoba melihat perubahan ekspresi di wajahnya. Tidak berubah. Orang ini kadang sulit ditebak.
“Kupikir kau yang tidak ingin mengenalku lagi, sehingga kau pulang tanpa kabar apapun. Aku menunggu pesan darimu, tapi tak ada satupun yang kau kirimkan padaku. Kau sama sekali menghilang, bahkan kau tidak menghubungi ibu sebelum pulang.” Lukaku yang masih menganga serasa diguyur oleh air es, bukan dingin lagi yang kurasakan, membeku.
“Laki-laki harus memberi kabar lebih dulu, jangan membuat perempuan menunggu.”
Aku mulai terisak, tidak peduli beberapa pelanggan toko melirik kearahku. Wajahnya mulai kabur di mataku. Butiran bening di pelupuk mataku sepertinya sebentar lagi akan jatuh.
“Kenapa kau pulang begitu saja? Apakah kau sudah yakin dengan keputusanmu hari itu? Kau sudah memikirkannya sungguh-sungguh?” tanya sambil memposisikan dirinya menghadapku.
“A..Aku….”
“Menghindar dari masalah bukan cara untuk menyelesaikan masalah. Menghindari masalah hanya akan menambah masalah baru. Apa kau pikir dengan kau pulang, masalah kita selesai? Apakah perpisahan bisa semudah itu?” bentaknya dengan suara yang lumayan keras. Bahkan aku merasa beberapa pelanggan berpura-pura memilih roti yang akan mereka beli supaya bisa mendengar percakapan kami. Kenapa orang-orang selalu ingin tahu permasalahan orang lain?
Perpisahan.
Kata yang paling kubenci. Aku benci perpisahan, aku benci ketika harus berjauhan dengan orang-orang yang sebelumnya bisa menjadi tonggak ketika aku sedang lemah dan pegangan ketika aku terlena dengan kebahagiaan. Aku benci merasa kehilangan.
“Kenapa kau pulang disaat masalah kita belum selesai?” tanyanya lagi dan tidak memberiku kesempatan untuk melakukan pembelaan.
“Apa kau pikir semuanya berakhir hanya dengan kata-kata perpisahan?”
Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Dia yang kini pindah di depanku menatapku yang hanya bisa menunduk menahan isakan yang keluar. Aku tidak berani menatap matanya. Aku hanya bisa melihat perutnya yang naik-turun dengan tempo yang tidak stabil. Apakah sekarang dia benar-benar marah padaku? Tapi kenapa dia yang harus marah? Bukankah aku yang harus marah ketika melihatnya bersama perempuan lain yang masih begitu mencintainya. Aku memiliki alasan untuk menjawab semua pertanyaannya, tapi sekarang aku lebih memilih menangis. Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.
“Jangan menangis.” Ucapnya dingin. Kenapa dia menjadi seperti ini? Mana rasa hangat yang selalu dia berikan dari kata-kata yang diucapkan padaku? Aku sungguh merindukannya.
“Aku sungguh tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Tiba-tiba kau meminta untuk mengakhiri hubungan kita, lalu kau pulang kerumahmu begitu saja tanpa menyelesaikan masalah dalam hubungan kita. Ibu selalu menanyakanmu, bahkan ibumu pun selalu menelponku menanyakan hubungan kita. Jika kau memang ingin mengakhiri hubungan kita, selesaikan semuanya dengan keluarga supaya tidak ada pihak yang merasa tersakiti. Terkadang aku bingung dengan cara pikirmu.”
Tangisku meledak meskipun harus kusembunyikan di balik kertas tissu.
“Bukankah sebenarnya kau yang ingin mengakhiri hubungan kita? Aku sudah lelah mempertahankan hubungan kita secara sepihak.”
Dia nampak terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan, “Apa maksudmu sepihak?”
“Bukankah selama ini hanya aku yang mempertahankan hubungan kita? Selama ini aku hanya bonekamu, aku bukan seseorang yang sebenarnya kau inginkan. Kau mempunyai orang lain selama ini, bukan?”
Dia menatap wajahku, aku tidak mampu membalas tatapannya karena mungkin wajahku sudah penuh dengan air mata. Aku tidak peduli jika orang-orang mulai melihat seru kearahku. Aku tidak peduli jika setelah ini pelangan-pelangganya membunuhku.                                                                                                                                         
“Apa yang kau bicarakan?”
Aku sudah tidak sanggup lagi menjawabnya. Aku harus menahan emosiku saat ini. Aku tidak ingin meneriakkan kalau akulah yang selama ini mempertahankan hubungan kami, aku sendiri yang harus merasa tersakiti setiap kali memergokinya berduaan dengan perempuan lain. Apakah dia tidak menyadari kesalahannya? Samar-samar aku melihatnya mengambil minumanku dan meminumnya. Apa dia tidak menyadari situasi yang sedang kurasakan? Kenapa dia seakan tidak bersalah sama sekali?
“Menangislah kalau kau ingin menangis, aku tidak ingin membicarakan masalah ini kalau hatimu sedang kalut. Aku takut kau pulang lagi. Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi. Menangislah, jika sudah membaik baru kita bicara lagi.”
Apa sekarang dia merasa kehilangan?
Aku mulai menenangkan hatiku, menghentikan tangisku ketika melihatnya beranjak dari kursi. Dengan mata yang masih basah, aku melihatnya berjalan menuju rak-rak berisi kue. Dia kembali dengan membawa dua potong kue dengan parutan keju diatasnya, dan menyodorkannya padaku. Aku belum membuka rotiku dan masih mengamati mulutnya yang penuh dengan roti. Aku selalu suka melihatnya ketika makan, tanpa sadar aku tertawa kecil.
“Kau tertawa? Aneh sekali, kukira kau masih menangis.” Dia tersenyum.
Aku memukulnya dengan roti yang tadi dia berikan padaku, dan kami tertawa. Aku merindukan suasana seperti ini. Aku mengamatinya memasukkan potongan roti ke mulutnya, mengusap makanan yang tertinggal di sudut bibirnya dan melihatnya mengunyah. Aku tidak akan pernah bosan melihatnya beraktivitas seperti itu. Aku terus memandanginya hingga akhirnya dia tersedak.
“Kenapa kau memandangiku seperti itu?”
“Kenapa kau habiskan minumanku?” aku mem-pout­-kan bibirku melihat cappucino-ku habis diminumnya.
“Sudah menangisnya?” tanya ketika dia sudah menghabiskan rotinya, bahkan aku belum memakan rotiku sama sekali.
“Sebenarnya selama ini kau salah paham padaku.”
“Salah paham?” tanyaku kaget.
Aku menatapnya, dan dia menatapku seakan memintaku untuk benar-benar mendengarkannya.
“Perempuan lain yang kau maksud itu sebenarnya tidak ada. Itu hanya pemikiranmu saja yang tidak terlalu mempercayaiku. Kau tidak sepenuhnya mempercayaiku?”
Aku melihat matanya yang mengarah langsung padaku, mencari kebenaran dari apa yang baru saja ditangkap oleh indera pendengaranku. Apa selama ini aku kurang mempercayainya? Kurasa aku selalu percaya padanya, bahkan aku mencoba untuk tidak cemburu pada gadis-gadis yang berada di dekatnya. Tapi dia jelas-jelas melakukan hal yang membuatku merasa kepercayaanku terkhianati. Tapi dia seakan-akan mengatakan bahwa aku yang salah dalam masalah ini.
 “Aku tahu kalau kau tidak mempercayaiku sepenuhnya, ditambah sifat cemburumu itu yang kadang tidak terkontrol membuatku sulit membuatmu percaya padaku. Sehingga kita terkadang salah paham satu sama lain. Dan ketika salah paham tidak segera diselesaikan, akhirnya seperti ini.”
“Sebenarnya salah paham apa yang terjadi di antara kita?”
“Dia adalah teman kecilku, dan dia mantan kekasihku saat aku masih di bangku kuliah. Kami bertemu lagi karena perusahaanku dan perusahaannya bekerja sama…”
Mantan kekasih?
“… kami jadi sering ketemu karena perusahaan membuatkanku program yang mengharuskan aku dan dia sering bersama. Kami dekat lagi karena kami sudah saling kenal sejak lama…”
Selalu bersama ya? Dia tidak pernah mengatakan itu padaku.
“… sebenarnya aku ingin mengatakan padamu sejak lama, tapi kurasa kau tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Kau tahu pekerjaanku seperti apa. Aku yakin kalau kau mempercayaiku sepenuhnya. Ternyata kejadian ini membuatku menyadarkanku kalau aku gagal membuatmu percaya padaku.”
Aku mempercayaimu, sungguh.
“Kau selalu menghabiskan waktu bersamanya, tanpa mengabariku. Apa itu juga bagian dari pekerjaanmu?”
“Itu… kuakui aku salah untuk hal itu. Aku seperti merasa bertemu teman dekat saat bersamanya. Aku sering mengajaknya bermain ketika aku tidak ada pekerjaan…”
“Dan kau melupakanku?” kataku memotong kalimatnya. Jadi selama ini dia melupakanku dan lebih memilih bersama perempuan itu? Lalu sebenarnya aku ini siapa baginya?
“Bisakah kau mendengarkanku dulu? Kau boleh cemburu, tapi dengar dulu apa yang ingin kukatakan. Kau tahu aku tidak bisa marah, tapi aku sakit hati kalau kau tidak mendengarkanku. Jangan buat aku menjadi laki-laki yang gagal memberikan kepercayaan kepada perempuanya.”
“Maaf.”
“Aku selalu ingin mengajakmu bersama kami, tapi aku tahu kau selesai kerja pukul lima sore dan saat itu aku harus sudah kembali ke perusahaan. Itulah kenapa aku jarang mengajakmu. Aku pun tidak selalu pergi berdua, aku pergi bersama temanku atau dia yang membawa temannya.”
Baiklah, satu fakta akhirnya terpecahkan dan membuatku menyadari kesalahanku. Aku tahu, akhir-akhir ini aku sibuk dengan pekerjaanku di kantor. Berangkat pagi dan harus pulang sore. Aku hanya bisa jalan bersamanya ketika akhir pekan, itupun kalau dia tidak ada jadwal kerja tambahan.
“Aku jadi lupa untuk memberi tahumu tentang dia, dan aku jadi sering pergi bersamanya. Tapi itu sama sekali tidak membuatku berubah padamu. Aku mendiamkanmu ketika kau marah dan cemburu bukan karena aku tidak memperhatikanmu atau mengacuhkanmu, tapi karena aku tidak ingin ada pertengkaran hanya gara-gara masalah kecil.”
“Lalu…”  tidak kulanjutkan kalimatku, rasanya seperti tersedak. Aku tidak bisa meneruskan kalimatku.
“Lalu?”
Aku masih menatap matanya yang masih menatapku. Aku percaya orang di depanku ini jujur padaku, tapi ketika ingatanku melayang ke beberapa hari yang lalu air mataku meleleh tanpa kusadari. Aku memang pecemburu, tapi tidak biasanya aku selemah ini.
“Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku katakan padamu.”
Katakan. Meski sesakit apapun, aku akan mendengarnya.
“Sebenarnya dia memintaku kembali padanya.”
Kembali?
Baiklah, aku bukan tipe orang yang mengemis cinta tapi untuk kali ini saja aku ingin memintanya tetap di sisiku. Tuhan, kalau apa yang akan dia katakana selanjutnya adalah hal yang menyakitkan, tolong tulikan aku.
“Dia memintaku kembali padanya. Meski dia tahu aku sudah memilikimu dia tetap ingin aku kembali padanya.” Katanya pelan. Bahkan aku baru menyadari kalau suaranya memelan sejak dia mengatakan tentang ‘satu hal’ yang ingin dikatakan padaku.
“Lalu kau menerimanya?”
Aku mengedipkan mataku kaget saat seakan wajahnya menyerangku dengan tatapan tajam yang tidak kumengerti apa arti dari tatapannya itu.
“Dia memintamu untuk kembali dan kau menerimanya? Jadi itu alasan kau menciumnya?” Entah darimana aku mendapat kesimpulan tersebut. Kepalaku mulai pusing karena terlalu banyak menangis.
Jawab aku! Katakan apa yang kukatakan itu salah!
“Aku menolaknnya.”
Terima kasih.
Aku sungguh lega mendengar jawabannya yang tidak sedikitpun menampakkan keraguan. Aku merasa bersalah telah tidak begitu mempercayainya. Akumenjadi semakin bersalah karena semua masalah ini diawali rasa tidak percayaku padanya. Tapi, kenapa harus menciumnya?
“Tapi kenapa kau menciumnya?”
“Dia yang memintaku melakukannya agar dia bisa melepasku.”
Aku tercengang mendengar pengakuannya. Perasaan lega yang tadi kurasakan hilang dan aku merasa luka yang akhirnya bisa kusembuhkan terbuka kembali.
“Hanya karena dia memintamu untuk melakukannya, kau melakukannya? Kalau perempuan itu memintamu tidur dengannya hanya untuk bisa melepasmu apa kau juga akan melakukannya? Apa kau tidak berpikir seberapa sakitnya aku? Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu?”
Sekujur tubuhku seperti disengat listrik dan sekarang semua tenagaku sudah terkuras. Aku bahkan tidak sadar kalau aku berdiri dan membentaknya.
“Kau ini bodoh.” Ucapku melemah.
“Maafkan aku. Aku bersalah telah melakukan hal itu, setelah kau pergi waktu itu aku menyadari kalau aku benar-benar melakukan kesalahan besar. Saat kakakku mengatakan kau pulang ke negaramu, aku benar-benar merasa bodoh…”
Kau memang sangat bodoh.
“Aku bahkan tidak menahanmu untuk tetap berada di sisiku saat itu. Ketika aku menyadari kesalahanku, kau sudah pergi. Aku sama sekali tidak mengirimimu pesan atau menelponmu karena aku takut aku tidak pantas lagi untuk memperjuangkanmu.”
Lalu kau menyerah begitu saja?
“Saat melihatmu berada di barisan antrian, aku malu. Malu untuk bertemu denganmu lagi. Seharusnya aku yang mendatangimu, memintamu untuk kembali padaku… Aku minta maaf. Sungguh aku minta maaf. Ibuku selalu memintaku untuk meminta maaf padamu dan bisa memperbaiki hubungan kita, tapi sepertinya aku terlalu jahat untuk  memintamu kembali padaku. Jika setelah ini kau akan tetap marah dan tidak memaafkanku, kumohon kau tetap baik pada keluargaku karena mereka terlanjur menyayangimu.”
Orang di depanku ini menangis. Aku melihat setetes air matanya turun dari pelupuk matanya. Kumohon jangan menangis di depanku.
“Maaf aku gagal memperjuangkanmu, membuatmu tetap bertahan di sampingku.”
“Aku tidak suka laki-laki yang lemah. Jangan menangis di depanku. Sekarang antarkan aku pulang.”
Aku tahu orang itu kaget karena tiba-tiba aku memintanya mengantarku pulang. Entahlah Cuma itu yang ada di pikiranku saat ini, aku ingin pulang. Kepalaku sakit memikirkan masalah ini.
“Eh?”
“Tidak mau?”
Dia kebingungan melihatku yang sudah berdiri menunggunya mengantarku pulang. Aku tersenyum melihatnya. Sungguh aku ingin memeluknya saat ini juga saat dia benar-benar terlihat begitu bodoh.
“K-kau memaafkanku?” tanyanya yang kujawab dengan anggukanku. Dia terlihat terkejut melihatku mengangguk mantap. Sebenarnya dia mau kumaafkan atau tidak sih?
“Kau sungguh-sungguh?” tanyanya lagi dengan ekspresi tidak percayanya.
“Terserah kalau kau memang tidak mau. Aku pulang sendiri kalau begitu.” Aku berjalan menjauh darinya dan sesaat kemudian tangan kekarnya menahanku.
“Terima kasih.”
            “Kau sudah gila?” Aku sungguh terkejut ketika dia memelukku. Segera kulepaskan pelukkannya, aku terlalu cepat sadar kalau kami sedang berada di tempat umum dan pelukan itu sangat singkat. Kenapa orang ini tidak segera mengantarku pulang? Aku ingin memeluknya tanpa ada satupun yang memperhatikan.
Dia melepas jaketnya dan dipakaikan ke wajahku, “Tutup wajah jelekmu dengan jaketku.”
Dia membawaku masuk ke ruang dapur. Meski aku tidak bisa melihat arahnya, namun aku hafal tempat ini, tak perlu waktu lama aku tahu kemana dia membawaku. Dia memelukku, dan aku membalasnya. Bau tubuhnya membuatku memeluknya lebih erat. Hangat, aku suka kehangatan ini.
“Aku penasaran, kalau kita bertengkar di rumahmu kemana aku harus mengantarmu agar kau memaafkanku?”
“Aku ikut kemanapun kau akan membawaku.”
“Baiklah, sekali lagi kau marah padaku aku akan menikahimu.” Katanya usil.
“Kau ini menyebalkan! Aku jadi berpikir ulang untuk memaafkanmu.”
“Kau marah? Baiklah aku kan menikahimu, ayo pulang.”
Kepercayaan dan kejujuran adalah pilar dalam membangun sebuah hubungan. Meski sakit hatiku belum sepenuhnya sembuh, tapi aku menghargai kejujuran atas kesalahan yang dilakukannya. Mungkin terlihat konyol, namun melihat ada seseorang yang memperjuangkanmu kau akan merasa menjadi seseorang yang sangat berharga. Kau tidak akan tahu kapan kau menjadi sesuatu yang pantas diperjuangkan oleh orang lain dalam hidupnya.





Komentar