Hey kamu, iya kamu. Aku mau tanya, bisakah kau berhenti dari perasaan
bodohmu itu? Bahkan orang terdekatmu pun berusaha menyadarkanmu, tapi
kenapa kau masih bertahan? Tidak sadarkah diluar sana banyak orang
menertawakanmu atas tindakan yang kau lakukan ini? Lihatlah, orang
terdekatmu bahkan merasa kasihan dengan keadaanmu sekarang. Apa kau
tidak kasihan melihat mereka berulangkali menyadarkanmu?
Ketika aku ingin berhenti pun aku berharap aku bisa meraihnya.
Sampai kapan kamu akan berhenti dari mimpi bodohmu itu? Tidak sadarkah kau sudah berlari terlalu jauh? Tidak ssadarkan bahwa apa yang kau inginkan itu sangat tidak mungkin?
Tapi aku bahagia....
Apa yang kau pikirkan tentang kata bahagia? Apa kau bahagia dengan tindakan yang kau lakukan ini? Kembalilah.
Aku menjadi orang yang lebih ceria dari sebelumnya, gara-gara hal ini.
Kau bisa ceria karena dirimu sendiri. Kau berubah karena kau ingin berubah. Lihatlah, bahkan ketika kau memiliki keinginan, kau bisa melakukannya. Jadi, buatlah keinginan dari dalam dirimu sendiri untuk bisa berhenti.
Aku tidak bisa.
Kau bahkan belum mencoba, kenapa kau menyerah? Apa sekarang kau menjadi seorang pengecut?
Semakin aku mencoba, semakin aku tidak ingin berhenti.
Kau ini pengecut! Pencundang!
Iya, aku ini hanyalah sebuah pengecut.
Kau bahkan rela merendahkan dirimu sendiri hanya karena perasaan bodohmu itu.
Aku tidak merendahkan diriku sendiri.
Sampai kapan kau bertahan dengan perasaan bodohmu itu? Apa kau tidak lelah melihat orang di sekitarmu memandangmu kasihan? Apa kau tega membuat mereka selalu memperingatkanmu akan tentang hal bodoh ini??
Ini bukan sesuatu yang bodoh.
Lalu kau sebut apa perasaanmu itu?
Sayang.
Hah, Bullshit! Apa yang kau tahu tentang kasih sayang?
Sesuatu yang tidak pernah dan tidak akan diketahui orang lain, kecuali dirimu.
Apa yang kau dapat dari 'sayang' itu?
Sesuatu yang belum pernah kudapatkan sebelumnya.
Tidak semua tindakan bisa dilakukan dengan hati saja. Kau harus menggunakan logika sebelum bertindak. Apakah selama ini logikamu berpikir? Apakah kau menggunakan otakmu sebelum dengan beraninya menggunakan kata 'sayang' untuk perasaanmu itu?
Otakku bekerja dengan normal.
Lalu kenapa kau tidak sadar?
Aku sepenuhnya sadar.
Lalu?
Lalu apa?
Baiklah, sekarang apa kau itu sadar kalau semua itu tidak mungkin? Hal yang diinginkan dan yang dibutuhkan itu dua hal yang berbeda, jadi berhentilah bersikap seperti itu.
Tuhan pun mengijinkanku melakukan hal ini. Kenapa kau terus memaksaku berhenti?
Aku kasihan melihatmu.
Apa aku terlihat seperti orang yang patut dikasihani? Aku baik-baik saja.
Tapi kau tidak boleh terus seperti ini, aku takut kau terlalu dalam terperosok.
Akulah orang yang paling mengerti diriku sendiri, aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku tahu mana yang salah dan mana yang benar. Ketika aku melakukan hal yang semua orang anggap itu salah, aku sedih. Tapi ketika aku mencoba melepaskan diri dari hal itu, aku tidak bisa. Aku tidak bisa secepat itu melarikan diri dari hal itu. Biarkan aku menikmati dulu masa-masa ini. Aku bahagia dengan perasaanku yang kalian anggap bodoh ini, aku merasa nyaman dengan diriku sekarang. Kalau aku memang salah, aku sudah menyerahkan diriku kepada Allah. Allah, Tuhanku yang Maha Adil, Maha Menyayangi, Maha Pengampun dan Maha Adil adalah yang Maha Tahu akan hidupku. Allah akan menegurku jika aku memang sudah terlalu jauh hidup dalam sesuatu yang salah. Tapi ketika saat ini Allah masih mengijinkanku seperti ini, tolong biarkan aku seperti ini. Tidakkan kau lihat bahagianya aku? Semakin kau memaksaku untuk berhenti, aku semakin merasa sangat lemah. Kumohon, aku tahu kau menyayangiku, kau bersikap yang terbaik selayaknya teman, tapi biarkan aku bahagia seperti ini dulu sampai kebahagiaan yang lain datang.
Ketika aku ingin berhenti pun aku berharap aku bisa meraihnya.
Sampai kapan kamu akan berhenti dari mimpi bodohmu itu? Tidak sadarkah kau sudah berlari terlalu jauh? Tidak ssadarkan bahwa apa yang kau inginkan itu sangat tidak mungkin?
Tapi aku bahagia....
Apa yang kau pikirkan tentang kata bahagia? Apa kau bahagia dengan tindakan yang kau lakukan ini? Kembalilah.
Aku menjadi orang yang lebih ceria dari sebelumnya, gara-gara hal ini.
Kau bisa ceria karena dirimu sendiri. Kau berubah karena kau ingin berubah. Lihatlah, bahkan ketika kau memiliki keinginan, kau bisa melakukannya. Jadi, buatlah keinginan dari dalam dirimu sendiri untuk bisa berhenti.
Aku tidak bisa.
Kau bahkan belum mencoba, kenapa kau menyerah? Apa sekarang kau menjadi seorang pengecut?
Semakin aku mencoba, semakin aku tidak ingin berhenti.
Kau ini pengecut! Pencundang!
Iya, aku ini hanyalah sebuah pengecut.
Kau bahkan rela merendahkan dirimu sendiri hanya karena perasaan bodohmu itu.
Aku tidak merendahkan diriku sendiri.
Sampai kapan kau bertahan dengan perasaan bodohmu itu? Apa kau tidak lelah melihat orang di sekitarmu memandangmu kasihan? Apa kau tega membuat mereka selalu memperingatkanmu akan tentang hal bodoh ini??
Ini bukan sesuatu yang bodoh.
Lalu kau sebut apa perasaanmu itu?
Sayang.
Hah, Bullshit! Apa yang kau tahu tentang kasih sayang?
Sesuatu yang tidak pernah dan tidak akan diketahui orang lain, kecuali dirimu.
Apa yang kau dapat dari 'sayang' itu?
Sesuatu yang belum pernah kudapatkan sebelumnya.
Tidak semua tindakan bisa dilakukan dengan hati saja. Kau harus menggunakan logika sebelum bertindak. Apakah selama ini logikamu berpikir? Apakah kau menggunakan otakmu sebelum dengan beraninya menggunakan kata 'sayang' untuk perasaanmu itu?
Otakku bekerja dengan normal.
Lalu kenapa kau tidak sadar?
Aku sepenuhnya sadar.
Lalu?
Lalu apa?
Baiklah, sekarang apa kau itu sadar kalau semua itu tidak mungkin? Hal yang diinginkan dan yang dibutuhkan itu dua hal yang berbeda, jadi berhentilah bersikap seperti itu.
Tuhan pun mengijinkanku melakukan hal ini. Kenapa kau terus memaksaku berhenti?
Aku kasihan melihatmu.
Apa aku terlihat seperti orang yang patut dikasihani? Aku baik-baik saja.
Tapi kau tidak boleh terus seperti ini, aku takut kau terlalu dalam terperosok.
Akulah orang yang paling mengerti diriku sendiri, aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku tahu mana yang salah dan mana yang benar. Ketika aku melakukan hal yang semua orang anggap itu salah, aku sedih. Tapi ketika aku mencoba melepaskan diri dari hal itu, aku tidak bisa. Aku tidak bisa secepat itu melarikan diri dari hal itu. Biarkan aku menikmati dulu masa-masa ini. Aku bahagia dengan perasaanku yang kalian anggap bodoh ini, aku merasa nyaman dengan diriku sekarang. Kalau aku memang salah, aku sudah menyerahkan diriku kepada Allah. Allah, Tuhanku yang Maha Adil, Maha Menyayangi, Maha Pengampun dan Maha Adil adalah yang Maha Tahu akan hidupku. Allah akan menegurku jika aku memang sudah terlalu jauh hidup dalam sesuatu yang salah. Tapi ketika saat ini Allah masih mengijinkanku seperti ini, tolong biarkan aku seperti ini. Tidakkan kau lihat bahagianya aku? Semakin kau memaksaku untuk berhenti, aku semakin merasa sangat lemah. Kumohon, aku tahu kau menyayangiku, kau bersikap yang terbaik selayaknya teman, tapi biarkan aku bahagia seperti ini dulu sampai kebahagiaan yang lain datang.
Komentar
Posting Komentar